Postingan

  Menjadi Doktor, Tetap Menjadi Ibu: Cerita Tentang Proses, Makna, dan Tumbuh Bersama Hari itu terasa sangat istimewa. Bukan hanya karena saya resmi menyandang gelar doktor, tetapi karena perjalanan panjang yang akhirnya sampai pada satu titik penuh makna. Di balik toga dan senyum bahagia, ada cerita tentang begadang, revisi tanpa henti, tangis kecil anak saya di malam hari, dan doa-doa yang dipanjatkan diam-diam. Sebagai ibu dari anak usia balita, dosen di STIE Pemuda Surabaya , dan content creator, menyelesaikan studi S3 bukanlah perjalanan yang mudah. Namun justru di sanalah saya belajar bahwa proses akademik bukan sekadar tentang gelar, melainkan tentang ketangguhan dan konsistensi. Ilmu yang Bertumbuh Bersama Kehidupan Nyata Menjalani studi doktoral di universitas lain memberi saya banyak perspektif baru—tentang riset, kedalaman berpikir, dan tanggung jawab akademik. Tetapi ketika kembali ke ruang kelas di STIE Pemuda Surabaya, saya semakin menyadari bahwa ilmu akan teras...
  Belajar Tentang Makna Kebermanfaatan di Dunia Pendidikan Ada satu hal yang semakin saya pahami setelah bergabung sebagai dosen di STIE Pemuda Surabaya : pendidikan sejatinya bukan tentang seberapa rapi administrasi disusun, tetapi tentang seberapa besar dampaknya bagi kehidupan mahasiswa setelah lulus. Sebagai akademisi, saya tentu memahami pentingnya standar dan kelengkapan administratif. Namun, dalam praktiknya, saya percaya bahwa nilai utama sebuah institusi pendidikan terletak pada kebermanfaatannya.. apakah kampus benar-benar hadir untuk mahasiswa, atau hanya sibuk memenuhi persyaratan demi citra dan nama besar semata. Pengalaman mengajar di STIE Pemuda Surabaya perlahan menguatkan keyakinan saya bahwa kampus ini menempatkan mahasiswa sebagai pusat perhatian. Mahasiswa Bukan Sekadar Angka Kelulusan Sejak awal bergabung, saya melihat bagaimana setiap mahasiswa diperlakukan bukan sebagai angka statistik kelulusan atau semata-mata sebagai pundi rupiah, tetapi sebagai indiv...
  Seni Menjaga Keseimbangan: Cerita Seorang Ibu, Dosen, dan Mahasiswa S3 Setiap pagi, hidup saya dimulai dengan rutinitas sederhana namun penuh cinta: menyiapkan sarapan, menemani anak yang baru bangun, dan sekaligus merapikan agenda harian. Di usia 1,5 tahun, ia sedang sangat aktif dan di sela-sela itu saya biasanya mulai memikirkan jadwal mengajar, revisi disertasi, hingga ide konten yang ingin saya buat untuk @binaraesa. Kehidupan sebagai ibu, dosen, mahasiswa S3, serta content creator mungkin terlihat penuh tekanan. Namun bagi saya, justru di titik-titik inilah saya menemukan warna kehidupan yang membuat saya merasa berkembang. Peran-peran ini tidak saling meniadakan, namun malah saling melengkapi. Mengajar: Ruang yang Selalu Menghidupkan Saya percaya bahwa menjadi dosen bukan sekadar profesi, melainkan kesempatan untuk memberikan manfaat yang luas. Mengajar di STIE PEMUDA memberi saya ruang untuk menemani mahasiswa yang kritis, kreatif, dan ingin belajar tentang dunia bi...

Mengapa Saya Memilih Berkarir di STIE Pemuda? Kampus Ini Tepat untuk Ibu & Profesional

   Menjalani peran sebagai seorang  ibu ,  istri ,  dosen ,  wirausaha kecil , sekaligus  mahasiswa S3  adalah perjalanan yang tidak mudah. Saya sering mendapat pertanyaan: "Kok masih mau kuliah lagi? Gimana cara bagi waktunya?" Jawaban saya sederhana:  pendidikan adalah investasi jangka panjang , dan saya ingin menjadi contoh nyata bahwa ibu pun berhak punya mimpi besar. Di tengah perjalanan akademik saya, saya justru menemukan satu kampus yang terasa  “ramah dan memiliki energi yang sangat positif” , terutama untuk ibu dan profesional yang ingin melanjutkan pendidikan tanpa harus mengorbankan keluarga maupun pekerjaan. Artikel ini adalah cerita personal saya --  why this campus fits my life so well . 1. Fleksibilitas yang Nyata, Bukan Sekadar Janji Sebagai ibu dari anak usia 1,5 tahun, saya harus realistis: tidak semua kampus bisa menerima ritme hidup saya. Ada hari di mana anak sedang rewel, jadwal mengajar mendadak berubah, atau...